PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA WISATA BERBASIS KECERDASAN EMOSIONAL MASYARAKAT

Sejalan dengan pengembangan SDM Pariwisata 4.0 khususnya pada pemberdayaan Desa Wisata berbasis masyarakat, sangat dibutuhkan fenomena keseimbangan antara kapasitas formatif (Skills) dan kapasitas subtantif (Character). Walaupun saat ini masih banyak agen perubahan atau pemberdayaan kadang lupa, mereka lebih prioritas pada pengembangan kapasitas formatif, daripada pengembangan kapasitas subtantif masyarakat, padahal kapasitas ini tidak kalah penting bahkan menjadi suatu indikator dalam keberdayaan dan kemandirian masyarakat desa wisata.

Masyarakat desa wisata paling sering diberikan pemberdayaan kapasitas-kapasitas formatif yang bersifat teknis, seperti pengelolaan homstay, penyediaan makan minum, pengadaan atraksi yg seringkali dalam suatu kasus mengarah pada ephoria. Daripada pengembangan kapasitas subtantif yang harusnya menjadikan masyarakat mandiri, memiliki mindset positif, kebersamaan, saling percaya, percaya diri, kepemimpinan, tahan banting, menerima keberagaman, gotong royong, kreatif, dan lain-lain.

Dari berbagai penelusuran pada para pejuang tangguh desa wisata produktif, seperti Pak Doto Yogantoro (Pentingsari), Pak Udi Hartoko (Pujon Kidul), Mas Alif Ajisaka (Dieng Kulon), Pak Poernomo Anshori (Gubuk Klakah), Mas Sugeng (Nglanggeran), Mas Joko Winarno (Ponggok), Pak Yitno Purwoko (Pampang), Pak Josef Muntei (Kepulauan Mentawai) dll. Dengan menggunakan pendekatan metode Qualitative Indepth Participation, dapat disimpulkan bahwa menurut mereka, kapasitas masyarakat bersifat subtantif menjadi syarat mutlak kemajuan dan keberdayaan suatu desa wisata berbasis masyarakat. Karena poin-poin diatas seperti memiliki kemandirian, mindset positif, kebersamaan, saling percaya, percaya diri, kepemimpinan, tahan banting, menerima keberagaman, gotong royong, kreatif, dan lain-lain. karena hal ini menjadi faktor penghambat suatu desa wisata, tatkala karakter-karakter tersebut diatas tidak atau belum sempat dimunculkan diawal-awal pencetusan sebuah desa wisata kepada masyarakat setempat.

Dari uraian tersebut sangat jelas bahwa perubahan Mindset dan Character Building, menjadi sebuah kebutuhan mendesak dalam berbagai pelatihan atau pemberdayaan masyarakat Desa Wisata. Guna meningkatkan kapasitas produktif masyarakat dalam mengembangkan Pariwisata berbasis masyarakat di daerah pedesaan.

M. Husen Hutagalung.
(Dosen Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti)

Komentar